[Edisi Buka Puasa] Feminisme dan Kemuliaan Wanita

Foto Amriadi Al Masjidiy Bersama Segenap Civitas SMAN 1 Sejangkung, Sambas Kalimantan Barat Ramadhan 1436 H
Oleh: Amriadi Al Masjidiy*
Tebar Suara | Feminisme,
biasanya para tokohnya disebut Feminis.
Feminimisme merupakan sebuah gerakan perempuan yang
menuntut emansipasi atau kesamaan dan
keadilan hak dengan pria. Feminisme
berasal dari bahasa Latin, femina
atau perempuan. Istilah ini mulai digunakan pada tahun 1890-an, mengacu pada
teori kesetaraan pria dan perempuan serta pergerakan untuk memperoleh hak-hak
perempuan. Sekarang ini kepustakaan internasional mendefinisikannya sebagai
pembedaan terhadap hak hak perempuan yang didasarkan pada kesetaraan perempuan
dan laki-laki.
Yang
menjadi pertanyaan, mengapa femenisme
itu lahir. Feminisme lahir karena mereka tidak terima terhadap perlakuan hak di
barat. Wanita di Barat ditindas. Sehingga lahirlah gerakkan ini. Peradaban
Yunani hanya memandang wanita sebatas seksual saja. Peradaban Romawi lelaki
punya hak untuk mengambil nyawa Istrinya. Prostitusi dan ketelanjangan sudah
menjadi barang yang biasa disana. Paradaban Babilonia para wanita ditolak semua
haknya berdasarkan hokum bible. Jika seorang pria membunuh wanita maka bukan
dia yang dihukum, tetapi istrinya yang dihukum mati.
Pertanyaannya,
kejadian seperti diatas terdapat dalam Islam tidak?. Kita lihat lebih dekat
lagi, peradaban India wanita hanya boleh hidup semasa suaminya hidup. Jadi
kalau ingin menikah di India, wanita harus melihat pria dulu. Kira-kira siapa
duluan, kan begitu. Peradaban Mesir lebih parah lagi, wanita dianggap sebagai
Iblis. Lebih parahnya lagi, peradaban Arab sebelum kedatangan Islam. Wanita
baru lahir langsung di bunuh. Sekarang malah kebalik belum tau pria atau wanita
sudah duluan dibunuh dengan oborsi. Sangat menyedihkan.
Maka
dari kejadian itu para wanita barat menuntut pada abad ke 18 dan puncaknya abad
ke 20. Mereka menuntut untuk kesetaraan gender karena kejadian diatas. Di
Indonesia, ikut-ikutan stress ala barat. Sehingga dibuatlah lagu “wanita di
jajah pria dari dulu, dari dulu wanita di jajah pria.” Kira-kira sejak kapan di
Indonesia ada pria menjajah wanita. Sangat tidak masuk akal. Karena tidak ada,
aksi gila ini juga terpengaruh oleh wanita-wanita muslimah. Sehingga mereka
juga menuntut untuk disetarain. Entah apa yang mau disetarakan.
Mereka
mengataka barat mengankat derajat wanita, Islam menjajahnya. Astafirullah.
Barat itu benar, Islam gak benar. Dan berbagai macam kata lainnya. Seolah-olah
barat itu tuhan, yang harus dipuja-puja. Ternyata yang dipuja adalah hal yang
salah. Mereka terjebak terhadap gerakkan feminism,
yang katanya mengankat harkat martabat wanita. Tapi justru lebih dari peradaban
sebelumnya. Wanita hanya menjadi barang pemuas nafsu pria saja, tidak lebih.
Bagaimana
tidak, barat memberikan kebebasan pada wanita, justru melecehkan wanita. Para
wanita berdadan untuk apa? Jawabannya agar diperhatikan oleh lawan jenis.
Berdadan hanya untuk memuaskan nafsu pria. Karena itu bohong besar, barat
mengangkat harkat wanita. Tetapi mengakat rok wanita. Wanita karir saat ini
menjadi tren topic di Televisi.
Wanita harus kerja agar sama dengan lelaki, agar tidak di jajah.
Antenanya
terlalu pendek kalau berpikir demikian, bagaimana tidak. Wanita itu tugas
dirumah. Walaupun anda lulusan S3, doctor. Tapi tugas anda adalah mendidik
anak-anak anda. Lebih baik anak kita di didik oleh doctor daripada pembantu
lulusan SD. Dia tau apa? Mau menjadikan anak kita sama seperti dia. Kalau yang
lulusan doctor mendidik anak, pasti anaknya sukses. Karena ibunya S3 yang
mendidiknya, bukan lulusan sembaragan.
Bukan
tidak boleh wanita bekerja, Islam membolehkannya. Tapi tidak sembarangan. Karena
Islam telah mengangkat harkat wanita. Jadi wanita bekerja itu dibatasi. Wanita
haknya menerima dari sang suami. Suami sudah menjadi tugas, ketika istrinya
meminta dia harus penuhi selama kepada hal yang baik. Bukan untuk foya-foya dan
sebagainya.
Tapi
wanita karir sekarang telah melewati batas hal yang dilarang. Mereka rela jadi
sales. Yang ternyata tidak jauh dari jualan dirinya. Anda pernah membaca
lowongan kerja untuk wanita. Dibutuhkan pekerja wanita, berpengalaman minimal
setahun, dan berpenampilan menarik.
Kalau sudah berpenampilan menarik, maka anda sedang untuk ekploitasi. Jadi
bintang iklan juga sama. Sales juga demikian. Hal yang sama juga dialami oleh
penyiar. Seorang wanita memang perlu memikirkan dirinya, agar tidak dadan untuk
orang lain selain suaminya.
Inilah
yang jadi masalah, masa untuk suaminya tidak pernah berdandan. Tapis pas keluar
agar berpenampilan menarik mau berdandan. Sangatlah terbalik, terus apa masalah
jika suami yang setuju. Masak belum tau masalah, sales, penyiar, bintang iklan
itu satu paket. Sekaligus anda menjadi barang jualan.
Jadi
barat sangatlah salah mengangkat harkat martabat wanita. Oleh karena itu kaum feminism terus mengolak agar gerakkannya
bertambah banyak. Ingatlah bahwa kaum Yahudi dan Nasrani itu tidak ridha dengan
keislaman kita. Oleh karena itu mereka berusaha menjauhkan kita dari ajaran
Islam. Sebutkan saja yang lagi trend
digugat mulai dari hijab, hokum waris, saksi wanita, kesetaraan gender, sampai
poligami.
Inilah
hokum Allah yang akan gugat oleh kaum feminism
dalam Islam. Terus bagaimana Islam memandang wanita. Apakah benar Islam membuat
wanita tertindas. Mari kita lihat pandangan Islam mengenai hal ini. Islam telah
mengangkat harkat martabat wanita sebagai ratu. Bagaimana bisa demikian padahal
wanita tidak sebebas pria, pria bisa kerja sedangkan wanita dibatasi.
Apakah
anda bisa berjabat tangan dengan ratu Ingris. Hanya orang tertentu saja yang
bisa, alias orang-orang yang terdekat dengannya. Begitu juga dengan wanita
Islam. Dia hanya boleh berjabat tangan kepada sanak familinya saja. Hal ini
sangat jelas Allah jelaskan dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 31.
Artinya: Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan
pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya,
kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain
kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka,
atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau
saudara-saudara pria mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau
putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-
budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan pria yang tidak mempunyai
keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat
wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang
mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang
yang beriman supaya kamu beruntung.
Maka
selain orang yang disebut dalam ayat diatas adalah orang asing. Maka tidak
boleh menampak perhiasan atau mendandan untuk orang asing. Mengenai hijab kita
akan menjawabnya pada pertemuan selanjutnya. Yang pasti Islam telah sempurna
mengatur kehidupan antara pria dan wanita. Bahkan wanita mendapatkan nilai
lebih daripada pria. Sampai-sampai surga itu dibawah telapak kaki ibu. Pernah
dengar mubalig mengatakan surga dibawah kaki bapak. Karena memang tidak ada
dalil yang mengatakan demikian. Yang ada itu dibawah kaki ibu.
Dalam
berbagai kesempatan wanita dibatasi, namun dibagian terntu wanita lebih unggul
dari pada pria. Sebutkan saja hadits lainnya. “Ketika Shahabat bertanya kepada Rasulullah kepada siapakah yang harus
mendapatkan cinta dan kasih sayang. Rasulullah menjawab ibumu, kemudian kepada
siapa lagi, lalu ibumu dan kepada siapa lagi, tetap Rasul menjawab ibumu, dan
kepada siapa lagi, baru bapakmu.” Dalam hal ini sang ibu mendapatkan
penghargaan medali mas, perak, sampai perunggu dari anaknya. Sang ayah harus
puas dengan hadiah harapan saja.
Maka
dari itu walau dibuat berbagai alasan bahwa wanita itu, harus sama dengan pria
atau lebih dikenal sekarang dengan kesetaraan gender. Tetap saja tidak bisa.
Yang melahirkan anak itu tetap wanita bukan pria. Jadi secara biologis wanita
itu tidak sama dengan pria. Begitu juga dengan psikologi. Wanita tetap tidak
sama dengan pria.
Misalkan
wanita itu bisa berpikir dalam sekejab banyak hal. Wanita bisa memasak, nonton
televise dan anak lagi dimana. Dia tau itu semua. dia juga tau cara mengatur
hal itu dalam waktu yang sama. Namun pria tidak bisa. Karena pria itu focus
satu tujuan. Oleh karena itu wanita dan pria itu memiliki jalur yang berbeda.
Lihat saja, lulusan bahasa lebih banyak wanita disbanding pria. Matematika pria
lebih banyak dari wanita. Dan seterusnya. Karena pria hanya bisa focus satu
tujuan sedang wanita bisa focus banyak tujuan.
Ketika
lagi jalan berdua. Suami lihat wanita lain, sang Istri tau. Tapi kalau Istri
lirik pria lain. Sang suami tidak tau. Mata ke suami, tapi pengliahatannya ke
kakang itu. Wanita cerewet itu hakikatnya. Wanita perlu cerewet. Sedangkan pria
tidak bisa cerewet. Maka kalau suami pulang di kantor diajak ngomong. Dia diam
saja. Karena kata-katanya sudah habis ditempat kerja. Begitu juga dengan anak
kecil SD. Pulang dari sekolah. Dek gimana sekolahnya. Jika dia cowok akan
menjawab ya biasa aja. Gimana pelajarannya, ya sama seperti kemarin. Singkat
padat.
Coba
kalau dia cewek, pasti ceritanya panjang. Oh, ya tadi di sekolah. Guru itu
ganteng banget. Ada teman yang ganggu dia. Sampai dia beli eskrim juga
diceritain. Tanpa harus banyak Tanya. Perempuan harus cerewet. Karena dari
cerewet inilah masa depan kecerdasan anak-anaknya. Ketika anak kecil menanyakan
kenapa daun itu hijau. Kelau sang bapak akan menjawab dari sononya juga sudah
demikian. Jangan banyak Tanya.
Tapi
sang ibu mampu menjawab dengan ilmu pengetahuannya. hijau karena disebabkan
fotosintesis dan sebagainya sesuai dengan ilmunya. Dan anak pasti akan menjawab
fotosintesis itu apa? Maka dari sinilah sang ibu harus pinter agar tidak salah
dalam mengajarkan anaknya. Untuk bisa mengetahui banyak hal tentu harus sekolah
yang tinggi, tidak cukup sampai SMA saja. Jadi posisi wanita dan pria itu
jelas, saling menguatkan. Bukan saling menjatuhkan. Sekali lagi Allah telah
menciptakan makhluk berpasang-pasangan. Maka jangan hidup sendiri, berdua lebih
enak. Untuk lebih lanjut akan kita bahas pada pertemuan selanjutnya. [tebarsuara.com]
Edisi Sebelumnya: [Edisi Buka Puasa] Membentuk Kebiasaan yang Baik
[Edisi Buka Puasa] Feminisme dan Kemuliaan Wanita
Reviewed by Redaksi
Redaksi
17:00:00
Rating:
No comments: